Malam itu seperti malam-malam sebelumnya. Saya berangkat tidur dengan harapan segera berjumpa hari esok, ingin segera berjumpa dengan si jabang yang sudah Sembilan bulan lebih ‘menginap’ di rahim ini. Lalu pada tengah malam saya terbangun ingin ke kamar mandi. Belum juga kedua kaki menapak ke lantai, tiba-tiba…pyoh! Ini apa, ya? Segera saya berteriak memanggil ibu di kamar sebelah. Dan ternyata yang barusan keluar adalah air ketuban. Antara senang dan cemas, saya pun segera dibawa ke klinik oleh bapak-ibu. Senang karena saat yang dinanti akan tiba, cemas karena takut air ketubannya terus keluar, takut di dalam si jabang kehabisan cairan. Jadi sepanjang perjalanan ke klinik saya tidak bebas duduk, khawatir air ketuban akan terus mengalir. Yah, namanya juga perdana, masih belum tau apa-apa. Ternyata air ketubannya ya nggak keluar lagi.
Setelah masuk klinik dan dicek oleh perawat jaga, ternyata memang sudah waktunya akan melahirkan, tinggal menunggu pembukaan aja. Akhirnya malam itu saya dan bapak-ibu mondok di klinik, tepatnya di ruang bersalin. Saya sampai di ruang bersalin pukul dua dini hari.
Nggak lama setelah masuk, saya disuruh pindah ke kamar inap. Ternyata ada pasien dating. Samar-samar saya mendengarkan obrolan keluarga pasien dengan perawat. Bukan, bukan mau melahirkan. Tapi mau ‘mengambil’ ari-ari yang masih tertinggal di dalam rahim. Hiii…belum apa-apa kok udah denger ngeri-ngeri kayak gitu, sih. Tapi saya juga nggak begitu memikirkan, karena kontraksi rahim udah mulai kencang dan lebih sering. Makin lama makin sering dan makin kuat. Hingga akhirnya saya pun dibawa kembali ke ruang bersalin (waktu itu pasien tadi udah nggak ada). Pukul tiga dini hari, saya telepon suami, kasih kabar kalau saya mau melahirkan dan memintanya untuk segera pulang ke bumiayu. Nggak tanggung-tanggung, saya pun telepon pakai teriak-teriak segala, nggak tahan sama kontraksinya. Suami mengajak dzikir. Allahu Rabbi…saya tidak lupa terus berdzikir. Lebih sering dzikir yang didapat dari buku Wirid Wanita Hamil. Tapi kontraksi yang begitu hebat membuat saya tidak bisa menahan teriakan. Perawat yang menemani saya sellau bilang agar saya mengatur nafas dna mengurangi teriakan. Tujuannya untuk mengehmat tenaga, biar nanti pada waktunya mengejan nggak kehabisan tenaga. Akhirnya pelan-pelan saya mulai mengatur nafas. Agak lumayan, jadi nggak ngos-ngosan. Tapi tetep…saya nggak bisa diam. Saat kontraksi datang, saya mengatur nafas plus pakai teriak juga. He-
Selepas shubuh, ibu dan bapak mertua dating. Akhirnya saya ditemani oleh ibu dan ibu mertua di ruang bersalin. Hingga pukul tujuh, saya sudah pembukaan delapan. Tapi kok bidannya nggak nongol-nongol. Saya pun makin cemas. Ini kalau bidannya nggak stand by trus tiba-tiba melahirkan gimana? Belum lagi saya merasa tenaga udah habis. Ya itu tadi, kebanyakan teriak-teriak. Ditawari sarapan nggak mau, nggak nafsu, orang mau melahirkan gini. Akhirnya buat tambah-tambah tenaga saya Cuma minum segela susu dna the manis hangat.
Bu bidannya baru nongol sekitar pukul setengah delapan. Aduh, bu…ke mana aja, sih? Tapi ya memang sudah profesinya, beliau santai-santai saja saat tiba di samping saya. Lalu sekitar pukul setengah Sembilan, semua orang yang berada di ruangan itu siap sedia. Saya didampingi oleh ibu, ibu mertua, bu bidan, dan dua mbak perawat. Dan akhirnya saya disuruh mengejan saat kontraksi dating, begitu kata bu bidan. Tapi karena sudah dari awal saya kurang tenaga, mengejan beberapa kali bayinya nggak keluar-keluar. Baru setelah saya merasakan tenaga udah habis, bu bidan bilang kepalanya udah nongol sebagian. Mau mengejan rasanya udah nggak kuat. Dan akhirnya…diputuskanlah proses kelahiran dibantu dengan alat vakum.
Alhamdulillah ‘ala kulli haal…terdengarlah suara tangis sosok mungil yang telah dinanti-nanti. Sekilas saya mencoba melihat tubuh yang masih berlumur darah itu. Sesekali saya pun menengok bayi mungil yang badannya tengah dibersihkan oleh perawat. Alhamdulillah…sungguh tak ada yang memenuhi rongga dada ini selain rasa syukur. Rasa sakit kontraksi, lelah yang amat sangat, juga rasa pedih saat dijahit seakan lenyap. Bicara soal jahit menjahit, saya termasuk yang dapat jahitan lumayan banyak. Sampai-sampai bidan saya bilang, itu bukan lagi dijahit, tapi diobras^^. Soalnya lumayan lama itu. Tapi itu nggak seberapa dibanding keselamatan si kecil dan diri saya.
Jadi, bagaiamna rasanya melahirkan? Sakitkah? Kalau saya sih, sebenarnya yang sakit itu bukan saat melahirkannya. Tapi saat kontraksinya itu. Nggak tau apa sebabnya. Apa karena saya terlalu rajin senam hamil, atau ada salah makan, atau memang kondisi janinnya memang demikian. Tapi dari beberapa cerita, nggak semua proses melahirkan harus mengalami kontraksi hebat di setiap pembukaan seperti saya. Banyak juga yang nggak pake kontraksi hebat dan lancer melahirkannya. Seperti ibu mertua saat kelahiran suami saya. Jam lima sore bidan datang ke rumah. Setelah diperiksa pembukaannya, langsung disuruh siap-siap (ternyata dari pagi hingga sore sedang proses pembukaan 1 s.d. 10), setengah jam kemudian bayi keluar. See? Kayaknya gampang banget, ya.
Bagi yang sedang menjalani kehamilan atau yang sedang menanti HPL, juz stay cool aja, ya. Silakan senam hamil, silakan juga latihan atur nafas atau hypnobirthing. Kalau saya sendiri, hypnobirthing doesn’t work. Mungkin karena saya kurang latihan, salah latihan atau karena begitu kuatnya kontraksi. Tapi yang lebih penting dari sekedar atur nafas dalam hypnobirthing adalah berdzikir. Cuman modal atur nafas aja nggak cukup untuk bikin tenang. Dalam kondisi apapun, berdzikir memang selalu membuat pikiran dan hati tenang.
Semoga bermanfaat ^^
Like this:
Be the first to like this post.
Komen-komen