Sebuah undangan warna merah jambu mampir ke rumah kami. Undangan dari seorang teman kantor suamiku. Sang pengantin baru telah mengikrarkan janji sucinya bulan lalu. Undangan itu bertuliskan waktu tempat berlangsungnya walimah, yang sedianya terlaksana ahad siang kemarin. Ya, sedianya demikian, dan itulah yang mereka berdua harapkan.
Qadarullah, sepasang pengantin baru itu mengalami kecelakaan. Sang lelaki hanya cedera ringan, sedang sang wanita yang tak mengalami luka lecet secuil pun ternyata harus masuk ICU karena pendarahan di otaknya.
Aku masih ingat saat membungkus kado untuk mereka. Aku juga masih ingat undangan merah jambu yang berhias pita dan bertinta emas itu. Ahad siang kemarin pun seharusnya kami dan para tamu undangan lain hadir merayakan kebahagiaan sang pengantin baru, memenuhi pesan si undangan merah jambu. Namun kehendak manusia hanya milik Allah Ta’ala. Ia, wanita yang baru sebulan menggenapkan separuh diin-nya, telah kembali ke sisi-Nya, ahad siang kemarin.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un…
Duhai kawan…sungguh kasihan diri ini. Padahal kematian adalah teman setia yang selalu mengawasi. Namun betapa ia sering luput dariku. Betapa ia sering terlewat oleh kesenangan-kesenangan dan kesibukan duniawi.
Duhai kawan…sungguh merugi diri ini. Mengira waktu akan abadi. Padahal kematian semakin mendekati.
Mungkin sudah saatnya kaki ini melangkah berziarah. Bukan untuk meratapi kepergian sang tercinta. Bukan juga untuk melakukan hal-hal yang mengundang murka Sang Kuasa. Cukuplah berdiri dan memandangi kediaman masa depan jasad ini. Akan seperti apakah ruh ini saat menemui-Nya? Allahu Rabbi…hanya Engkau penolongku…
Wahai Rabb kami…tutuplah usia ini dengan akhir yang baik. Lindungilah diri ini dari rayuan syaithan saat maut menjemput, dan ridhai diri yang hina ini saat kembali menghadap-Mu…
Allah…Allahu Rabbi…hanya Engkau penolongku…
Like this:
One blogger likes this post.
Komen-komen