catatan cinta untuk dunia

Share your love to the world, then you’ll get the world will smile at you.

Zainul Abidin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib

nabawi-mousq2-sZainul Abidin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib adalah anak dari salah seorang cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Husain bin Ali bin Abi Thalib. ibunya adalah putri kaisar Persia yang bernama Syah Zinaan. setelah masuk Islam, namanya berganti menjadi Ghanzalah.

memasuki usia dewasa, penduduk Madinah mendapati Ali bin Husain sebagai pemuda Bani Hasyim yang patut diteladani ibadah dan ketaqwaannya, terhormat, luas pengetahuan dan ilmunya. melihat kepribadian beliau tersebut, kaumnya memberi julukan ‘Zainul Abidin’ (hiasan para ahli ibadah), julukan yang lebih dikenal dari nama aslinya. selain itu, karena sujud yang sangat lama, penduduk Madinah juga menyebutnya sebagai ‘As Sajjad’. dan karena jiwanya yang bersih, ia dijuluki pula dengan ‘Az Zakiy’.

karena keutamaanya dalam beribadah, sampai-sampai setiap kali beliau selesai wudhu terlihat wajahnya pucat pasi seperti orang ketakutan. bila ditanya tentang hal itu, beliau menjawab, “Duhai celaka, tidakkah kalian tahu, kepada siapa aku akan menghadap dan siapa yang akan aku ajak bicara?”

Hasan bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib meriwayatkan, “Suatu hari pernah terjadi perselisihan antara aku dengan putra pamanku, Zainul Abidin. kudatangi ia tatkala berada di masjid bersama sahabat-sahabatnya. aku memakinya, tetapi dia hanya diam membisu sampai aku pulang. malam harinya ada orang mengetuk pintu rumahku. aku membukanya untuk melihat siapa gerangan yang datang. ternyata Zainul Abidin. tak kusangsikan lagi, ia pasti akan membalas perlakuanku tadi siang. namun ternyata dia hanya berbicara, ‘Wahai saudaraku, bila apa yang Engkau katakan tadi benar, semoga Allah mengampuniku. dan jika yang Engkau katakan tidak benar, semoga dia mengampunimu…’. kemudian beliau berlalu setelah mengucapkan salam. merasa bersalah, aku mengejarnya dan berkata, ‘Sungguh, aku tak akan mengulangi kata-kata yang Engkau tidak sukai.’ Zainal Abidin berkata, ‘Saya telah memaafkanmu.’ “

suatu hari, Thawus bin Kaisan melihat Zainul Abidin sedang berdiri di bawah bayang-bayang Ka’bah, gelagapan seperti orang tenggelam, menangis seperti orang yang sedang terdesak kebutuhan yang sangat. setelah Zainul Abidin selesai berdoa, Thawus bin Kaisan berkata,

Thawus: “Wahai cicit Rasulullah, kulihat Anda dalam keadaan demikian padahal Anda memiliki tiga keutamaan yang saya mengira bisa mengamankan Anda dari rasa takut.”

Zainul Abidin: “Apakah itu wahai Thawus?”

Thawus: “Pertama, Anda adalah keturunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. kedua, Anda akan mendapatkan syafaat dari akkek Anda dan ketiga, rahmat Allah bagi Anda.”

Zainul Abidin: “Wahai Thawus, garis keturunanku dari Rasulullah tidak menjamin keamananku setelah kudengar firman Allah, ‘…kemudian ditiup lagi snagkala, maka tidak ada lagi pertalian nasab diantara mereka hari itu...’(Al Kahfi: 99). adapun tentang syafaat kakekku, Allah telah menurunkan firmanNya, ‘Mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah.‘(Al Anbiya: 28).  sedangkan mengenai rahmat Allah, lihatlah firmanNya, ‘Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik’. (Al A’raf: 56).

kisah lainnya dituturkan oleh pembantunya sendiri: “Aku adalah pembantu Ali bin Husain. suatu kali aku disuruh memenuhi salah satu kebutuhannya, tapi aku terlambat melakukannya. begitu aku datang langsung dicambuk olehnya.

aku menangis bercampur marah sebab dia tidak pernah mencambuk siapapun sebelum itu. aku berkata, “Allah…Allah…Allah… Wahai Ali bin Husain, mengapa tatkala Anda menyuruhku memenuhi keperluanmu, namun setelah kupenuhi Anda justru memukulku?”

beliau terkejut lalu menangis mendengar kata-kataku. lalu berkata, ‘Pergilah ke masjid Nabawi, shalatlah dua rakaat kemudian berdoalah, ‘Ya Allah, ampunilah Ali bin Husain’. bila Engkau mau emlakukannya, Engkau akan aku merdekakan’. aku mengikuti kata-katanya. aku shalat dan berdoa seperti yang dimintanya. ketika kembali ke rumahnya, diriku telah menjadi orang yang bebas merdeka.”

saat Zainul Abidin wafat, beliau dimandikan oleh orang-orang. saat dimandikan, terlihat ada bekas hitam di punggungnya, sehingga bertanyalah mereka yang memandikannya, “Bekas apakah ini?” di antara yang hadir menjawab, “Itu adalah bekas karung-karung tepung yang selalu dipikulnya ke seratus rumah di Madinah ini.” karena kejadian ini, barulah orang-orang miskin di Madinah menyadari dari mana asal tepung yang tiba-tiba ada di rumah mereka. sebab Ali bin Husain tidaklah memikul sekarung tepung di punggungnya mengelilingi rumah para fakir miskin yang tak suka menengadahkan tangannya kecuali hanya pada malam hari, saat orang-orang sedang tidur nyenyak. setelah beliau wafat, mereka tidak lagi menerima rizki yang tiba-tiba itu.

(diringkas dari salah satu kisah dalam buku Tabi’in, penulis Dr.Abdurrahman Ra’fat Basya, penerbit Pustaka At Tibyan)

Sebuah Tanggapan untuk Zainul Abidin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib

  1. alfian 11 April 2011 pada 2:25 PM

    assalamu’alaikum,,, izin share ya…?

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.